Selasa, 03 November 2015

BENCANA ALAM DI PULAU SULAWESI

TUGAS GEOLOGI INDONESIA
BENCANA ALAM DI PULAU SULAWESI






OLEH:
Kelompok IV
Geogarfi B 2013
Sahrul H. Banat
Frangki Maswito Usman
Taufik Abdullah
Dwi Fitri Muna Indasari
Ni Kadek Sriyanti
Selvita R.M Taid
Dosen Pembimbing
Intan Noviantari Manyoe, S.Si., M.T
Program Studi S1 Pendidikan Geografi
Jurusan Ilmu & Teknologi Kebumian
Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2015



Pulau Sulawesi terletak pada zona pertemuan diantara tiga pergerakan lempeng besar yaitu pergerakan lempeng Hindia Australia dari selatan dengan kecepatan rata 7 cm/tahun, lempemg Pasifik dari timur dengan kecepatan sekitar 6 cm/tahun dan lempeng Asia bergerak relatif pasif ke tenggara. Posisi Sulawesi yang berada pada kawasan lempeng tektonik microplate sangat rawan terhadap gerakan dan benturan ketiga lempeng bumi tersebut yang akan menimbulkan fenomena geologi dan dampak merugikan pada kehidupan manusia, terutama ancaman gempa dan tsunami yang disetiap saat dapat terjadi. Perkembangan tektonik di kawasan Pulau Sulawesi berlangsung sejak zaman Tersier hingga sekarang, sehingga Pulau Sulawesi termasuk daerah teraktif di Indonesia dan mempunyai fenomena geologi yang kompleks dan rumit.

Dari gambar di atas dapat di lihat sebagian besar daerah Slawesi Utara merupakan wilayah yang rawan bencana alam, antara lain: Banjir, Gempabumi, Kebakaran Permukiman, Kekeringan, Cuaca Ekstrem, Longsor, Gunungapi, Abrasi, Kebakaran Hutan dan Lahan, Konflik Sosial. Daerah yang paling rawan terkena bencana alam adalah kepulauan Talaud dan kota minahasa. Untuk daerah Kota mobagu dan bolaang mongondow termasuk daerah yang rendah terkena bencana alam.
Sulawesi utara juga mempunyai gunung api, yaitu gunung lakon, Tercatat pernah meletus pada 1991 Gunung Lokon pada Oktober 1991 pernah meletus yang menimbulkan kerugian material mencapai Rp 1 miliar. Ribuan jiwa penduduk di Desa Kakaskasen I, Kakaskasen II, Kinilow dan Tinoor, ketika itu setempat diungsikan besar-besar ke sejumlah daerah yang dinilai tidak rawan karena atap ribuan rumah penduduk hancur dihantam batu dan debu setebal 15 sampai 20 cm. Dalam musibah tersebut, seorang wisatawan asal Swiss, Vivian Clavel yang berkunjung saat terjadi letusan hebat itu tidak dapat ditemukan. Ia dipastikan tewas tertimbun longsoran lahar dingin.
Kamis, 14 Juli 2011 pukul 22:45 WITA gunung Lokon di kawah Tompaluan meletus dengan lontaran material pijar, pasir, dan hujan abu setinggi sekitar 1.500 meter.[6]. Selanjutnya, letusan kembali terjadi pada Jumat dini hari sekitar pukul 01.30 Wita dengan lontaran material vulkanik setinggi 600 meter. Letusan ini mengakibatkan lebih dari 10.000 warga di beberapa desa, di antaranyaKinilow, Tinoor, dan Kakaskasen mengungsi ke Tomohon atau Manado. Sedikitnya dalam sehari setelah letusan telah dua warga meninggal sebagai akibat tidak langsung dari letusan.
Gempa yang perna  terjadi pada 28 Januari 2005 membuat banyak orang mengungsi karena kuatir terjadi tsunami. Dampak gempa bukan saja menewaskan dua warga akibat panik, yang lebih menggegerkan lagi terjadi patahan tanah di dua wilayah Pulau Seram tepatnya di Kecamatan Tehoru dan Elpaputih.

Hampir semua provinsi Sulawesi Barat merupakan wilaya yang rawan bencana alam, tercatat gempa berkekuatan 5,6 pada Skala Richter mengguncang Provinsi Sulawesi Barat, pada tanggal 08 februari 2015, Pusat gempat berada di Barat Laut kota Majene, Sulawesi Barat, pada kedalaman 33 kilomete,
Selain itu sulawesi barat juga memiliki ancaman bencana alam  Banjir, Kebakaran Permukiman, Kekeringan, Cuaca Ekstrem, Longsor, Abrasi, Kebakaran Hutan dan Lahan, Konflik Sosial, Epidemi dan Wabah Penyakit. Daerah polewali mandar, mamuju, mamasa, dan majene, merupakan daerah yang rawan terkena bencana alam.

Keadaan geografis Provinsi Sulawesi Selatan cukup beragam karena daerah ini memiliki beberapa sungai, danau dan pegunungan. Jumlah sungai yang mengaliri wilayah Sulawesi Selatan tercatat sekitar 65 aliran sungai, dengan jumlah aliran terbesar berada di Kabupaten Luwu, yakni sebanyak 25 aliran sungai. Sedangkan sungai yang berada di Kabupaten Gowa dikendalikan oleh bendungan Bili-bili. Provinsi Sulawesi Selatan adalah salah satu Provinsi di Indonesia yang terletak di jazirah selatan Pulau Sulawesi, dengan luas 4.611.845 ha (42% dari luas seluruh Pulau Sulawesi) dan memiliki tingkat kepadatan penduduk sekitar 165 jiwa per km persegi26.
Sama seperti provinsi sulawesi barat, suteng juga merupakan daerah rawan bencana alam Banjir, Gempabumi, Kebakaran Permukiman, Kekeringan, Cuaca Ekstrem, Longsor, Abrasi, Gagal Teknologi, Konflik Sosial, Epidemi dan Wabah Penyakit. Dimana untuk wilaya Gowah, Tanah Toraja, Soppeng dan wajo merupakan daerah yang memiliki ancman bencana alam tinggi.

Sulawesi Tengah memiliki luas wilayah 68.059,71 km2, dengan angka kepadatan penduduk mencapai 39 jiwa per km persegi27. Wilayah provinsi ini meemmpunyai sekitar 25 gunung yang memiliki ketinggian lebih dari 2.000 meter.
Gunung Colo yang tingginya 507 meter dari permukaan laut, terakhir kali erupsi pada 23 Juli 1983. Letusan eksplosif yang dahsyat disertai dengan awan panas ke arah tenggara dan barat daya. Salah satu prekursor dari letusan terakhir ini adalah terjadi gempa terasa sebanyak 30 – 40 kejadian sejak 8 Juli 1983 hingga menjelang letusan. Gempa bumi adalah suatu sentakan yang disebabkan oleh pelepasan energi yang bersumber dari dalam bumi kemudian merambat ke permukaan, getarannya dapat dirasakan langsung oleh manusia ataupun melalui pencatat gempa (seismograf). Secara umum, gempabumi dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain pergerakan lempeng bumi yang menimbulkan gempa tektonik, letusan gunungapi menghasilkan gempa gunungapi dan runtuhan lapisan batuan yang disebut gempa runtuhan.
Selain gunung api sulawesi tenga juga mempunyai ancaman bencana alam seperti: Banjir, Gempabumi, Kebakaran Permukiman, Kekeringan, Cuaca Ekstrem, gunung api Longsor, Abrasi, Konflik Sosial, Epidemi dan Wabah Penyakit. Daerah yang rawan terkena ancaman bencana alam adalah poso, kota palu, Morowali, dan aderah yang intensitas bencana alamnya rendah adalah Buol, Banggai Kepulauan.

          Permukaan tanah di Gorontalo sebagian besar adalah perbukitan. Oleh karenanya, Gorontalo memiliki banyak gunung dengan ketinggian yang berbeda. Gunung Tabongo yang terletak di Kabupaten Boalemo merupakan gunung yang tertinggi dengan ketinggian 2.100 m dari permukaan laut. Sedangkan Gunung Litu Litu yang terletak di Kabupaten Gorontalo adalah gunung yang terendah dengan ketinggian 884 dari permukaan laut. Disamping mempunyai banyak gunung, provinsi ini juga dilintasi banyak sungai, sungai terpanjang adalah Sungai Paguyaman yang terletak di Kabupaten Boalemo dengan panjang 99,3 Km. Sedangkan sungai yang terpendek adalah Sungai Huango dan Bionga dengan panjang masing-masing 24,2 Km, yang terletak di Kabupaten Gorontalo.
Secara umum Provinsi Gorontalo merupakan daera yang rawan bencana alam, antara lain, Banjir, Gempabumi, Kebakaran Permukiman, Kekeringan, Longsor, Abrasi. Dengan daerah Kota Gorontalo, Kab. Bone Bolango dan kab, Bualemo merupakan daerah yang rawan terkena bencana alam.

Provinsi Sulawesi Tenggara mempunyai wilayah daratan seluas ± 38.140 Km persegi dan wilayahperairan (laut ) diperkirakan seluas ± 110.000 Km persegi dengan kepadatan penduduk mencapai 53 jiwa per km persegi28. Kondisi tanah daerah Sulawesi Tenggara pada merupakan daerah pegunungan, bergelombang berbukit-bukit. Kondisi batuan wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara ditinjau dari sudut geologis terdiri atas batuan sedimen, batuan metamorfosis, dan batuan beku.

Semua wilaya yang ada di Provinsi sulawesi Tenggara merupakan daerah yang memiliki ancaman bencana alam yang tinggi antara lain: Banjir, Gempabumi, Kebakaran Permukiman, Kekeringan, Cuaca Ekstrem, Longsor, Abrasi. Dengan wilaya Kota kendari, Buton Utara dan Kolaka utara merupakan daerah yang rewan terken bencana alam.



Referensi
Kaharuddin MS, Hutagalung Ronald, dan Nurhamdan. 2011. Perkembangan Tektonok dab Implikasi Terhadap potensi Gempa Dan Stunama Di Kawasan pulau Sulawesi.    Makasar. PROCEEDINGS JCM MAKASSAR.
BNPB. 2011. Indeks Rawan Bencana Indonesia. Jakarta. Deputi Bidang Pencegahan Dan Kesiapsiagaan.


BENCANA ALAM DI PULAU BALI

UGAS GEOLOGI INDONESIA
BENCANA ALAM DI PULAU BALI



OLEH:
Kelompok IV
Geogarfi B 2013
Sahrul H. Banat
Frangki Maswito Usman
Taufik Abdullah
Dwi Fitri Muna Indasari
Ni Kadek Sriyanti
Selvita R.M Taid
Dosen Pembimbing
Intan Noviantari Manyoe, S.Si., M.T
Program Studi S1 Pendidikan Geografi
Jurusan Ilmu & Teknologi Kebumian
Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2015
Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km, sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa yang beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain. Provinsi Bali memiliki 4 (empat) buah danau yang berlokasi di daerah pegunungan, yaitu Danau Beratan, Buyan, Tamblingan dan Danau Batur. Di Provinsi ini juga terdapat 6 gunung (Gunung Abang, Gunung Agung, Gunung Batukau, Gunung Batur, Gunung Catur, dan Gunung Sangiang).
Dari gambar di atas dapat di lihat bahwa Provinsi Bali merupakan daerah yang rawan terjadi bencana alam, dengan indeks bencana alam tertinggi berada di wilayah Buleleng, Lombok Timur, dan Bima, sedangkan wilayah Lombok Utara dan Kota Bima Termasuk daerah sedang terkena bancana, Provinsi Bali mempunyai ancaman bencana alam antara lain: Banjir, Gempa bumi, Tsunami, Kebakaran Permukiman, Kekeringan, Cuaca Ekstrem, Longsor, Gunung api, Abrasi, Kebakaran Hutan dan Lahan, Konflik Sosial, Epidemi dan Wabah Penyakit.
Gunung Bantur adalah gunung api yang ada di Bali. Gunung api ini masih aktif hingga sekarang. Lokasinya bisa ditemui di kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli di pulau Bali yang indah. Karena termasuk gunung api aktif, gunung ini sering kali meletus.  Letusan pertama terjadi pada sekitar tahun 1804 silam, dan letusan terakhir pada tahun 2000. Letusan memang seringkali terjadi, letusan yang paling parah tanggal 2 agustus hingga 21 september 1926, akibat dari letusan gunung ini yang di catat paling dahsyat adalah banyak lava yang menimbun Desa Batur dan Puli Ulun Danu Batur.
Selain gunung Bantur, Gunung Agung merupakan sebuah gunung vulkanik tipe monoconic strato yang ada di Bali yang tingginya mencapai sekitar 3.142 meter di atas permukaan laut. Gunung tertinggi di Bali ini termasuk muda dan terakhir meletus pada tahun 1963 setelah mengalami tidur panjang selama 120 tahun.


Referensi
BNPB. 2011. Indeks Rawan Bencana Indonesia. Jakarta. Deputi Bidang Pencegahan Dan Kesiapsiagaan.
Anonim. 2015.diambil dari http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2005/3/7/l2.htm di akses pada 25-oktober-2015 

BENCANA ALAM DI PULAU NUSATENGGARA

TUGAS GEOLOGI INDONESIA
BENCANA ALAM DI PULAU NUSATENGGARA



 
OLEH:
Kelompok IV
Geogarfi B 2013
Sahrul H. Banat
Frangki Maswito Usman
Taufik Abdullah
Dwi Fitri Muna Indasari
Ni Kadek Sriyanti
Selvita R.M Taid
Dosen Pembimbing
Intan Noviantari Manyoe, S.Si., M.T
Program Studi S1 Pendidikan Geografi
Jurusan Ilmu & Teknologi Kebumian
Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2015




Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), termasuk wilayah yang rawan terkena bencana alam, di lihat dari gambar di atas sebagian besar wilayah NTB rawan terkena bencana alam, wilaya lombok barat, lombok timur, sumbawa, bima merupakan daerah yang paling rawan terkena ancaman benacana alam, sedangkan untuk wilayah Lombok Utara dan Kota Bima termasuk kategori rendah terkena benacana alam. Ancaman bencana yanag ada di NTB anatara lain banjir, Gempabumi, Tsunami, Kebakaran Permukiman, Kekeringan, Cuaca Ekstrem, Longsor, Gunungapi, Abrasi, Kebakaran Hutan dan Lahan, Konflik Sosial, Epidemi dan Wabah Penyakit.
Di sisi timur kaldera terdapat Gunung Baru (atau Gunung Barujari) yang memiliki kawah berukuran 170m×200 m dengan ketinggian 2.296 - 2376 m dpl. Gunung kecil ini terakhir aktif/meletus sejak tanggal 2 Mei 2009 dan sepanjang Mei, setelah sebelumnya meletus pula tahun 2004.Jika letusan tahun 2004 tidak memakan korban jiwa, letusan tahun 2009 ini telah memakan korban jiwa tidak langsung 31 orang, karena banjir bandang pada Kokok (Sungai) Tanggek akibat desakan lava ke Segara Anak.Sebelumnya, Gunung Barujari pernah tercatat meletus pada tahun 1944 (sekaligus pembentukannya), 1966, dan 1994.
NTT merupakan provinsi kepulauan dengan luas sekitar 48.718,10 km persegi yang terdiri lebih dari 560 pulau, dengan tiga pulau utama adalah Flores, Sumba dan Timor Barat. Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk daerah yang rawan terkena bencana alam seperti, Banjir, Gempa bumi, Tsunami, Kebakaran Permukiman, Kekeringan, Cuaca Ekstrem, Longsor, Gunungapi, Abrasi, Kebakaran Hutan dan Lahan, Konflik Sosial, Epidemi dan Wabah Penyakit. Dengan indeks ancaman bencana alam tertinggi wilayah Sikka, flores Timur, da manggarai, sedangkan indeks ancaman kategori sedang terdapat di daerah sumbah tenga, dan sabu raijua.
Di wilayah NTT, terdapat 11 gunung api yaitu Gunung Ine Like, Ebu Lobo, Iya, Kelimutu, Roka Tenda, Lewo Tobi (Laki–laki), Lewo Tobi (Perempuan), Lera Boleng, Ile Boleng, Ile Lewotolo dan Gunung Ile Werung. Dari gunung-gunung yang ada, mengalir sekitar 40 Sungai besar dimana yang terbesar adalah Sungai Kambaniru (118 km), Benanain (100 km), Noelmina (90 km) dan Wanokaka (80 km). 
Gunung Egon adalah sebuah gunung berapi yang terletak di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, provinsi Nusa Tenggara Timur,Indonesia. Gunung ini memiliki tinggi 1.703 meter dari permukaan laut. Egon kembali aktif pada 2006 setelah vakum selama 75 tahun. Egon tercatat meletus dahsyat pada 1925.
Gunung-gunung api yang aktif itu di antaranya adalah Gunung Sirung di Alor; Lewotobi Lakilaki dan Perempuan (Flores Timur); Ile Ape, Lewotolok, dan Hobalt (Lembata); Ranaka dan anak Ranaka (Manggarai); Ine Rie dan Ebulobo (Ngada), serta Rokatenda dan Egon (Sikka).
Dari 17 gunung api itu, sejak 2000, hanya tiga gunung yang meletus, yakni Sirung, Rokatenda, dan Hobalt yang berada di dalam laut. Sedangkan gunung api lainnya hanya menunjukkan peningkatan aktivitas dan kembali normal. (Baca: Tahun Baru, Dilarang Menginap di Puncak Gunung Api.)
Terakhir, gunung api yang meletus adalah Rokatenda di Sikka, mengakibatkan lima orang tewas dan ratusan lainnya mengungsi. Gunung dengan ketinggian 875 meter di atas permukaan laut itu terakhir kali meletus pada 2 Februari 2013.



Referensi
BNPB. 2011. Indeks Rawan Bencana Indonesia. Jakarta. Deputi Bidang Pencegahan Dan Kesiapsiagaan.
Di ambil dari. http://nasional.tempo.co/read/news/2015/01/22/058636622/17-gunung-api-di-ntt-aktif di akses pada 25-oktober-2015


BENCANA ALAM DI PULAU PAPUA

TUGAS GEOLOGI INDONESIA
BENCANA ALAM DI PULAU PAPUA
OLEH:
Kelompok IV
Geogarfi B 2013
Sahrul H. Banat
Frangki Maswito Usman
Taufik Abdullah
Dwi Fitri Muna Indasari
Ni Kadek Sriyanti
Selvita R.M Taid
Dosen Pembimbing
Intan Noviantari Manyoe, S.Si., M.T
Program Studi S1 Pendidikan Geografi
Jurusan Ilmu & Teknologi Kebumian
Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2015
 
 
Luas wilayah Provinsi Papua adalah 309.934 km persegi dengan kepadatan penduduk yang cukup kecil yaitu sekitar 6 jiwa per km persegi32, merupakan provinsi terluas di Indonesia. Provinsi ini merupakan salah satu provinsi yang kaya akan suku asli yaitu terdiri dari 255 suku, dengan bahasa yang masing-masing berbeda. Daratan Papua merupakan daratan yang terbentuk akibat pergerakan aktif antara lempeng pasifik dan Indo-Australia yang menyebabkan banyak terdapat patahan aktif dan gunung-gunung, yaitu: Gunung Arfak, Gunung Derabaro, Gunung Dwikora, Gunung Jaya/Ngapulu, Gunung Kwoko, Gunung Mandala, Gunung Redoura, Gunung Togwomeri, Gunung Trikora, Gunung Yamin, dan Gunung Yaramamafaka.
 Ancaman Bencana alam yang ada di papua antara lain Banjir, Gempabumi, Kebakaran Permukiman, Cuaca Ekstrem, Longsor, Abrasi, Konflik Sosial, Epidemi dan Wabah Penyakit. Wilayah Jayawijaya, jawapura, Nabire merupakan wilyah yang paling tinggi terkena bencana alam, sedangkan Tolikara, paniai, nduge adalah wilaya yang kategori sedang terkena bencana alam.
 
 
Provinsi Papua Barat memiliki luas wilayah 115.363,50 km2 dengan Kabupaten Teluk Bintuni merupakan kabupaten terluas yaitu 18.658 km2 atau 16,17 persen dari total luas wilayah Provinsi Papua Barat dan Kota Sorong merupakan kabupaten dengan luasan terkecil yaitu 1.105 km2. Kepadatan penduduk di provinsi ini mencapai 7 jiwa per km persegi33. Provinsi ini juga terdapat beberapa gunung, yaitu: Pegunungan Arfak, Pegunungan Fak- Fak Gunung Fudi, Pegunungan Kumafa, Gunung Kwoko, Pegunungan Tamarau, Gunung Togwomeri, Gunung Wasada, dan Gunung Wiwi.
Di bagian Utara wilayah Provinsi Papua Barat ini terdapat patahan yang paling aktif di Indonesia, yaitu patahan sorong sehingga wilayah ini sering mengalami gempabumi. Dari gambar di atas dapat di lihat bahwa sebagian besar wilayah Provinsi papua barat berwarna hijau merupakan derah yang rendah terhadap ancaman bencana alam, Ancaman Bencana alam yang ada di provinsi papua barat antara lain Banjir, Gempabumi, Abrasi, banjir, dan longsor. Wilayah Monokwari, Teluk Mondama merupakan daerah yang paling tinggi terkena ancaman bencana alam, sedangkan kota Sorong, sorong Selatan Raja Empat merupakan daerah yang kategori sedeng untuk terkena bencana alam.
 
 
Meningkatnya banjir yang melanda beberapa daerah di wilayah Indonesia, sering dikaitkan dengan pembabatan hutan di kawasan hulu dari sistim daerah aliran sungai (DAS). Secara geomorfologi, Potensi Banjir yang tinggi terdistribusi pada wilayah Dataran Rendah, Dataran Alluvial serta Lembah Alluvial.
Dari gambar di atas dapat di lihat potensi banjir di daerah Provinsi papua merupakan aderah yang paling tinggi untuk potensi terkena banjir, sedangkan untuk daerha Provinsi Papua Barat merupakan wilayah dengan kategori sedang untuk potensi terkena banjir, dan kepulauan maluku termasuk daerah yang berpotensi rendah terkena bencana banjir.
 
 
Pada umumnya batuan yang mudah desintegrasi, pola patahan batuan, perlapisan batuan, ketebalan tanah lapuk, kemiringan curam, kandungan air tinggi dan getaran gempa merupakan sifat geologis yang mempengaruhi proses longsoran, manusia juga dapt menjadi faktor pendukung terjadinya longsoran, misalnya secara sengaja melakukan penebangan hutan di daerah pegunungan, melakukan penambahan beban, penambahan kadar air, penambahan sudut lereng. Karena faktor kadar air merupakan hal yang cukup dominan, maka longsor sering terjadi di musim hujan.
Dari gambar di atas menunjukkan bahwa sebaran potensi tanah longsor di ke empat Provinsi tersebut pada umumnya yang tersebar di bagian tengah pada daerah perbukitan dan pegunungan yang memiliki karakteristik berlereng terjal dengan karakteristik penggunaan tanah lebih didominasi oleh penggunaan tanah pertambangan, tanah terbuka, pemukiman, transmigrasi dan airport. daerah Provinsi papua merupakan aderah yang paling tinggi untuk potensi terkena tanah longsor, sedangkan untuk daerha Provinsi Papua Barat merupakan wilayah dengan kategori sedang untuk potensi terkena tanah longsor, dan kepulauan maluku termasuk daerah yang berpotensi rendah terkena bencana tanah longsor.



Referensi
BNPB. 2011. Indeks Rawan Bencana Indonesia. Jakarta. Deputi Bidang Pencegahan Dan Kesiapsiagaan.
KEMENTERIAN NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. 2027. Analisis Potensi Rawan Bencana Alam di Papua dan Maluku (Tanah Longsor – Banjir – Gempa Bumi - Tsunami). Jakarta. Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas.
 
 

BENCANA ALAM DI PULAU MALUKU

TUGAS GEOLOGI INDONESIA
BENCANA ALAM DI PULAU MALUKU
 
 
 

OLEH:
Kelompok IV
Geogarfi B 2013
SahrulH. Banat
Frangki Maswito Usman
Taufik Abdullah
Dwi Fitri Muna Indasari
Ni Kadek Sriyanti
Selvita R.M Taid
Dosen Pembimbing
Intan Noviantari Manyoe, S.Si., M.T
Program Studi S1 Pendidikan Geografi
Jurusan Ilmu & Teknologi Kebumian
Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2015
 
 


Provinsi Maluku secara keseluruhan memiliki luas 81.376 km persegi dan kepadatan penduduk sekitar 28 jiwa per km persegi30. Provinsi Maluku merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari 559 pulau yang berada di ujung patahan sorong. Diwilayah ini, terdapat beberapa gunung yang tertinggi yaitu gunung Binaya dengan ketinggian 3055 M, terletak di Pulau Seram Kabupaten Maluku Tengah sedangkan 9 gunung lainnya tersebar di beberapa pulau yang ada di wilayah ini.
Provinsi maluku juga memiliki ancaman bencana alam yang kompleks antara lain: Banjir, Gempa bumi, Tsunami, Kebakaran Permukiman, Kekeringan, Cuaca Ekstrem, Longsor, Gunung api, Abrasi, Kebakaran Hutan dan Lahan, Konflik Sosial, Epidemi dan Wabah Penyakit. Wilayah Kota ambon, Buru, Maluku tengah merupakan wilayah yang tertinggi untuk terancaman bencana alam, sedangkan wilayah kota tual, dan maluku tenggara barat merupakan wilayah yang mempunyai indeks sedang untuk terkena bencana alam, dan wilayah yang paliang rendah  terancam terkena bencana alam adalah kepulauan baru, dan seram bagian timur.
 

Luas total wilayah Provinsi Maluku Utara mencapai 140.255,32 km². Sebagian besar merupakan wilayah perairan laut, yaitu seluas 106.977,32 km² (76,27%). Sisanya seluas 33.278 km² (23,73%) adalah daratan. Provinsi Maluku Utara terdiri dari 395 pulau besar dan kecil. Pulau yang dihuni sebanyak 64 buah dan yang tidak dihuni sebanyak 331 buah dengan kepadatan penduduk sekitar 30 jiwa per km persegi31.
Beberapa gunung yang cukup aktif berada di wilayah ini, antara lain Gunung Gamalama, Gunung Gamkonora, dan Gunung Ibu, Gunung api dukono. Provinsi Maluku Utara memiliki anacaman benacana alam Banjir, Gempabumi, Kebakaran Permukiman, Cuaca Ekstrem, Longsor, Gunungapi, Abrasi. Wilaya Halamahera Barat, Halmahera selatan dan kota  Ternate, Merupakan indeks tinggi terkena ancaman bencana alam, sedangkan untuk wilayah kepulauan sula, kota tidore kepulauan, dan pulau morotai merupakan wilaya kategore sedang untuk terkena bencana alam.
Gunung Api Dukono (1185 dpl) yang terletak di bagian utara pulau Halmahera merupakan satu dari rangkaian gunung-gunung berapi aktif yang ada di Maluku Utara. Namun berbeda dengan gunung-gunung lainnya, Dukono memiliki kawah berapi dengan aktivitas yang tinggi. Pada letusan hebat di tahun 1550, lava yang dikeluarkan Dukono mengisi selat diantara Pulau Halmahera dan lereng utara dari Gunung Mamuya. Letusannya kala itu mencapai skala 3 dari Volcanic Explosivity Index. Sejak 1933, Dukono terus mengalami letusan-letusan kecil secara berkelanjutan hingga saat ini.


Referensi
BNPB. 2011. Indeks Rawan Bencana Indonesia. Jakarta. Deputi Bidang Pencegahan Dan Kesiapsiagaan.
Anonim.Diambil Dari http://www.halmaherautara.com/wst2/27/gunung-api-dukono di akses pada 25-oktober-2015